Suku Baduy, Bersinergi Bersama Alam

Foto: kemdikbud.go.id

Foto: kemdikbud.go.id

Baduy merupakan sub-etnis Sunda yang hidup di Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten.  Berjarak sekitar 40 km dari kota Rangkasbitung, populasi mereka sekitar 5.000 hingga 8.000 orang. Mereka merupakan salah satu suku yang menerapkan isolasi dari dunia luar, hidup berdampingan dan bergantung pada alam.

Dikutip dari Wikipedia, sebutan “Baduy” merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden).

Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan  Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau “Orang Kanekes” sesuai dengan nama wilayah mereka.

Suku Baduy terbagi menjadi dua golongan, yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Perbedaan keduanya adalah dalam tata cara menjalankan Pikukuh atau aturan adat. Masyarakat Baduy Luar sudah terpengaruh pola hidup masyarakat modern, sementara Baduy Dalam masih memegang teguh adat istiadat  dan menjalankannya dengan baidan menjalankannya dengan baik,

Ketatnya aturan adat pada masyarakat Baduy Dalam, memaksa mereka agar tidak terkontaminasi budaya luar. Masyarakat Baduy Dalam melarang penggunaan barang-barang elektronik. Namun demikian, secara umum masyarakat suku Baduy masih memilih hidup tanpa listrik.

Orang Kanekes Dalam tidak mengenal budaya tulis, sehingga adat-istiadat, kepercayaan/agama, dan cerita nenek moyang hanya tersimpan di dalam tuturan lisan saja.  Bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Sunda dialek Sunda–Banten. Untuk berkomunikasi dengan penduduk luar mereka lancar menggunakan Bahasa Indonesia, walaupun mereka tidak mendapatkan pengetahuan tersebut dari sekolah.

Orang Kanekes tidak mengenal sekolah, karena pendidikan formal berlawanan dengan adat-istiadat mereka. Masyarakat suku Baduy  tidak mengirimkan anak-anaknya ke sekolah untuk belajar layaknya masyarakat pada umumnya.

Mereka menolak usulan pemerintah  untuk membangun fasilitas sekolah di desa-desa mereka. Bahkan hingga hari ini, walaupun sejak era Suharto pemerintah telah berusaha memaksa mereka untuk mengubah cara hidup mereka dan membangun fasilitas sekolah modern di wilayah mereka, orang Kanekes masih menolak  usaha pemerintah tersebut. Akibatnya, mayoritas orang Kanekes tidak dapat membaca atau menulis.

Masyarakat Kenekes menerima para pengunjung yang datang ke wilayah mereka, bahkan untuk menginap satu malam. Pengunjung harus mematuhi sejumlah larangan, diantaranya tidak boleh berfoto di wilayah Kanekes Dalam, larangan membawa tape atau radio, tidak menggunakan sabun atau odol di sungai, tidak menangkap atau membunuh binatang, tidak membuang sampah sembarangan, tidak menebang pohon, tidak mengonsumsi minuman memabukkan, dan tidak melanggar norma susila.

Namun, wilayah Kanekes tetap terlarang bagi orang asing (non-WNI). Beberapa wartawan asing yang mencoba masuk sampai sekarang selalu ditolak masuk. Pada saat pekerjaan di ladang tidak terlalu banyak, orang Kanekes juga senang berkelana ke kota besar sekitar wilayah mereka dengan syarat harus berjalan kaki dan tanpa menggunakan alas kaki.